Pengaruh Waktu terhadap Nilai Uang (Konsep Time Value of Money )
Umur (Jangka Waktu) Proyek
Umur/jangka waktu proyek ini bisa berupa umur ekonomis aset tersebut ataupun umur teknisnya.
Umur ekonomis suatu proyek merupakan ukuran umum yang sering dipakai. Umur ekonomis ditetapkan berdasarkan jangka waktu (periode) yang kira-kira sama dengan umur ekonomis dari aset terbesar yang ada di proyek.
Umur teknis adalah jumlah tahun selama aset terbesar dari suatu proyek bisa digunakan. Umur teknis biasanya dipakai untuk memudahkan perhitungan.
Umur (Jangka Waktu) Proyek
Adanya umur/jangka waktu proyek inilah yang memengaruhi nilai uang yang juga menunjukkan pentingnya konsep time value of money dalam analisis suatu proyek.
Selain umur/jangka waktu proyek, hal yang menyebabkan pentingnya konsep time value of money adalah adanya konsep preferensi waktu (time preference). Preferensi waktu (time preference) menunjukkan bahwa sejumlah sumber yang tersedia lebih disenangi untuk dinikmati pada saat ini daripada dengan sejumlah yang sama, tetapi baru tersedia dan dinikmati pada masa yang akan datang.
Sebagai gambaran misalnya, apabila ada seseorang yang akan memberikan sejumlah uang sebesar Rp5.000.000,00 dengan memberikan alternatif pilihan waktu, apakah mau diambil saat ini atau tahun depan? Maka kecenderungan orang akan lebih senang memilih Rp5.000.000,00 saat ini. Mengapa? Apakah Anda bisa menyebutkan alasannya?
Mengapa Nilai Uang Berubah Dengan Berjalannya Waktu?
Terdapat tiga hal yang menyebabkan nilai uang berubah dengan berjalannya waktu, yaitu:
Inflasi
Kita semua tahu, adanya inflasi akan menyebabkan sejumlah uang yang sama akan mempunyai nilai riil yang semakin kecil dengan semakin bertambahnya waktu karena harga sumber-sumber daya akan semakin mahal. Dengan kata lain, dengan adanya inflasi akan menyebabkan nilai uang riil yang semakin menurun.
Konsumsi
Penundaan konsumsi mempunyai biaya (opportunity cost) yang berhubungan dengan risiko dan ketidakpastian mengenai waktu yang akan datang. Dengan kata lain, kita menyadari bahwa memegang uang sekarang lebih berharga daripada memilikinya di masa yang datang karena adanya faktor kesempatan untuk konsumsi, adanya risiko dan ketidakpastian (time preference of money) yang berbeda.
Produktivitas
Bilamana kita mengetahui adanya kesempatan untuk menanamkan uang pada suatu kegiatan (proyek) yang menguntungkan, kita dapat memilih untuk “mengaktifkan” uang kita sekarang dengan harapan mendapat keuntungan di masa yang akan datang. Hal ini disebut sebagai faktor produktivitas atau earning power uang, suatu hal yang harus diperhitungkan pada saat kita harus menentukan pilihan (proyek). Faktor produktivitas uang (modal) merupakan alasan utama mengapa kita harus memperhitungkan adanya pengaruh waktu terhadap nilai uang dalam penilaian investasi proyek.
Berdasarkan penggunaannya dan tujuan analisis, pengaruh waktu terhadap nilai uang meliputi 2 (dua) hal, yaitu discounting dan compounding.
Discounting factor
Discounting adalah cara menghitung manfaat dan biaya mendatang menjadi nilai kini (present value).
Compounding factor
Compounding adalah suatu cara perhitungan yang digunakan untuk menilai manfaat dan biaya suatu proyek saat ini (present) menjadi nilai yang akan datang (future).
Annuity factor (present worth)
Annuity factor adalah menghitung nilai sekarang dari sejumlah uang yang sama yang diterima setiap akhir periode/akhir tahun.
Rumusnya adalah:
Capital recovery factor
Untuk menghitung sejumlah nilai yang sama setiap tahun dengan tingkat bunga, jumlah saat ini dan waktu yang telah ditentukan.
Rumusnya adalah:
Sinking fund factor
Mencari sejumlah uang yang harus dicadangkan setiap tahun dalam jangka waktu tertentu, untuk mencapai suatu target pada akhir periode, dengan tingkat bunga tertentu.
Rumusnya adalah:
Compounding factor per annum
Untuk mencari nilai yang akan datang dari sejumlah arus uang yang diterima dalam jumlah yang sama setiap tahun.
Rumusnya adalah:
Kriteria Investasi
Net Present Value (NPV)
Net Present Value (NPV) merupakan nilai kini bersih (manfaat bersih tambahan) yang diterima suatu proyek selama jangka waktu/umur tertentu dan pada tingkat discount rate tertentu. Net Present Value adalah selisih antara total present value manfaat dengan total present value biaya atau jumlah present value dari manfaat bersih tambahan selama umur proyek.
Untuk melakukan penilaian apakah suatu proyek yang dilakukan tersebut layak atau tidak untuk dilaksanakan berdasarkan kriteria NPV:
|
NPV |
Keterangan |
|
> 0 |
Proyek layak untuk dilaksanakan. |
|
= 0 |
Proyek masih layak untuk dilaksanakan, namun hanya menghasilkan keuntungan normal (impas) sebesar social opportunity cost faktor produksi modal karena nilai kini yang dihasilkan sama dengan nilai biaya yang dikeluarkan. |
|
< 0 |
Proyek tidak layak dilaksanakan karena manfaat yang diperoleh lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan. |
Gross Benefit – Cost Ratio
Gross B/C ratio merupakan kriteria kelayakan lain yang biasa digunakan dalam analisis proyek. Dalam gross B/C, baik tambahan manfaat maupun tambahan biaya adalah nilai kotor atau total. Dengan demikian, gross B/C ini menunjukkan tingkat besarnya tambahan manfaat kotor dari setiap tambahan satu rupiah biaya yang digunakan. Dengan menggunakan kriteria ini, akan lebih menggambarkan pengaruh dari adanya tambahan biaya terhadap tambahan manfaat yang diterima.
Kriteria yang digunakan untuk menilai layak atau tidaknya suatu proyek berdasarkan kriteria ini sebagai berikut:
|
Gross B/C |
Keterangan |
|
> 1 |
Proyek dinyatakan layak untuk dilaksanakan. |
|
= 1 |
Proyek dinyatakan layak untuk dilaksanakan walaupun hanya menghasilkan keuntungan normal. Dengan kata lain, proyek tersebut hanya mampu menghasilkan manfaat kotor yang besarannya sama dengan biaya yang dikeluarkan. |
|
< 1 |
Proyek dinyatakan tidak layak untuk dilaksanakan karena dari setiap biaya yang dikeluarkan hanya diperoleh manfaat yang besarannya jauh lebih kecil. |
Net Benefit – Cost Ratio
Net B/C merupakan ukuran besarnya tingkat penerimaan bersih dari setiap besarnya tingkat investasi dari biaya-biaya yang digunakan. Jadi, selama masih negatif disebut periode investasi dan setelah positif disebut periode benefit.
Kriteria yang digunakan untuk menilai layak atau tidaknya suatu proyek berdasarkan kriteria ini adalah:
|
Net B/C |
Keterangan |
|
> 1 |
Proyek dinyatakan layak untuk dilaksanakan. |
|
= 1 |
Proyek dinyatakan layak untuk dilaksanakan walaupun hanya menghasilkan keuntungan normal. Dengan kata lain, proyek tersebut hanya mampu menghasilkan manfaat yang besarannya sama dengan biaya yang dikeluarkan. |
|
< 1 |
Proyek dinyatakan tidak layak untuk dilaksanakan karena dari setiap biaya yang dikeluarkan hanya diperoleh satuan manfaat yang besarannya jauh lebih kecil. |
Internal Rate of Return (IRR)
Internal Rate of Return (IRR) atau tingkat pengembalian internal, yaitu nilai discount rate social yang membuat NPV proyek sama dengan nol. Internal rate of return ini menunjukkan besarnya tingkat kemampuan pengembalian dari seluruh modal yang ditanamkan dalam proyek setiap tahunnya, yang dinyatakan dalam persen.
Payback Period
Metode ini mencoba mengukur seberapa cepat investasi bisa kembali. Suatu proyek yang payback period-nya pendek/cepat pengembaliannya maka proyek tersebut baik dan kemungkinan besar akan dipilih. Masalah utama dari metode ini adalah sulitnya menentukan periode payback maksimum yang diisyaratkan untuk dipergunakan sebagai angka pembanding.
Risiko dan Ketidakpastian Proyek
Karena dalam analisis proyek banyak diperlukan ramalan (forecasting) maka perhitungan-perhitungan biaya dan manfaat mengandung banyak ketidakpastian sehingga menimbulkan risiko. Biaya konstruksi misalnya dapat dipengaruhi keadaan cuaca. Alat yang dapat digunakan untuk mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi adalah analisis sensitivitas dan analisis switching value.
Analisis Sensitivitas (Sensitivity Analysis)
Analisis sensitivitas digunakan untuk melihat dampak dari suatu keadaan yang berubah-ubah terhadap hasil suatu analisis kelayakan. Tujuan analisis ini adalah untuk melihat kembali hasil analisis kelayakan suatu kegiatan investasi atau aktivitas ekonomi apabila terjadi suatu kesalahan atau perubahan di dalam perhitungan biaya atau manfaat ataupun yang memengaruhi komponen manfaat dan biaya.
Analisis Nilai Pengganti (Switching Value)
Analisis ini merupakan variasi dari analisis sensitivitas. Dalam analisis nilai pengganti kita harus mencari berapa banyak elemen yang kurang baik yang akan diganti agar proyek dapat memenuhi tingkat minimum diterima atau layak untuk dilaksanakan. Dengan kata lain, sampai berapa persen perubahan yang terjadi pada variabel (yang diduga bisa menyebabkan perubahan) sehingga proyek dikatakan masih dapat diterima
Tidak ada komentar:
Posting Komentar