Rangkuman Materi Fa’il dan Maf’ul Bih
1. Fa’il (Subjek dalam Jumlah Fi’liyyah)
Pengertian:
Fa’il adalah isim marfū‘ (dibaca rafa’) yang terletak setelah fi’il (kata kerja) dan menunjukkan pelaku suatu perbuatan.
Ketentuan Fa’il:
-
Selalu marfū‘ (rafa’) → tandanya: dhammah, kadang alif atau waw.
-
Terletak setelah fi’il ma‘lūm (kata kerja aktif).
-
Fi’il tetap berbentuk mufrad (tunggal) meskipun fa’il jamak atau mutsanna.
-
Jika fa’il mu’annats, fi’il diberi tambahan tā’ ta’nīts.
-
Bentuk fa’il dapat berupa:
-
Isim zhahir (nama jelas): tunggal, ganda, jamak.
-
Dhamir (kata ganti): bariz (muttashil/munfashil) atau mustatir.
-
2. Maf’ul Bih (Objek dalam Jumlah Fi’liyyah)
Pengertian:
Maf’ul bih adalah isim manshūb (dibaca nashab) yang menjadi sasaran pekerjaan dalam kalimat fi’liyyah.
Ketentuan Maf’ul Bih:
-
Hanya ada pada fi’il muta‘addī (kata kerja yang membutuhkan objek).
Contoh: Ahmad membaca Al-Qur’an → Al-Qur’an = maf’ul bih. -
Jika objek tidak disebutkan, kalimat menjadi tidak sempurna.
-
Tanda nashab:
-
Fathah/fathatain, ya’, alif, dll sesuai bentuk isim.
-
-
Bentuk maf’ul bih dapat berupa:
-
Isim zhahir.
-
Isim dhamir: munfashil atau muttashil.
-
Perbedaan Singkat
| Bagian Kalimat | Fa’il | Maf’ul Bih |
|---|---|---|
| Fungsi | Pelaku | Sasaran perbuatan |
| Posisi | Setelah fi’il | Setelah fa’il/akhir kalimat fi’liyyah |
| Harakat | Rafa’ (dhammah) | Nashab (fathah) |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar