Sabtu, 07 Juni 2025

Qardh

 

๐Ÿ”ท Apa itu Qardh?

Qardh (ุงู„ู‚ุฑุถ) adalah akad pinjaman kebajikan, di mana:

  • Seseorang (muqrid) memberikan pinjaman uang atau harta kepada orang lain (muqtarid)

  • Dengan syarat pengembalian dalam jumlah yang sama pada waktu yang disepakati

  • Tanpa tambahan imbalan apa pun, karena tambahan tersebut termasuk riba jika disyaratkan


๐Ÿ”ท Tujuan Qardh

  • Untuk membantu sesama atas dasar tolong-menolong (ta’awun)

  • Tidak bertujuan untuk memperoleh keuntungan


๐Ÿ”ท Karakteristik Qardh

Karakteristik Keterangan
Akad Tabarru’ (non-komersial)
Tujuan Tolong-menolong
Imbal hasil Tidak boleh disyaratkan
Objek Biasanya uang, bisa juga barang tertentu
Jaminan Boleh, tapi tidak wajib
Pengembalian Wajib dalam jumlah pokok yang sama
Tambahan sukarela dari peminjam Boleh, asalkan tidak disyaratkan sejak awal

 

๐Ÿ”ท Contoh Kasus Qardh

  • Seorang nasabah mengalami kesulitan dan mengajukan pinjaman kepada lembaga keuangan syariah sebesar Rp5 juta.

  • Lembaga menyetujui tanpa menetapkan bunga atau imbal hasil.

  • Nasabah mengembalikan Rp5 juta sesuai waktu yang disepakati. Jika ia menambah Rp100 ribu sebagai ucapan terima kasih tanpa ada kesepakatan sebelumnya, maka itu diperbolehkan.


๐Ÿ”ท Akuntansi Qardh di Lembaga Keuangan Syariah

  • Saat penyaluran pinjaman:

    Dr Piutang Qardh     xxx
       Cr Kas/Bank           xxx
     

    Saat pelunasan:

    Dr Kas/Bank           xxx
       Cr Piutang Qardh     xxx
     

    Jika ada tambahan dari peminjam (sukarela):

    Dr Kas/Bank           xxx
       Cr Pendapatan Non-Hibah (sumbangan)   xxx
     

     

Qardh adalah akad pinjaman kebajikan, di mana:

  • Penerima pinjaman wajib mengembalikan jumlah pokok yang sama, tanpa tambahan.

  • Tidak boleh ada bunga, fee, atau keuntungan materi bagi pemberi pinjaman.

  • Jika ada imbalan, harus bersifat sukarela (tabarru’), bukan disyaratkan.

     

Dalam perspektif syariah, jika penerima Qardh (muqtarid) tidak mampu membayar tepat waktu karena alasan yang sah (udzur), maka:

  • Pemberi pinjaman (muqrid) dianjurkan untuk memberikan kelonggaran waktu (rescheduling) tanpa mengenakan denda atau bunga tambahan.

  • Hal ini berdasarkan prinsip rahmah (kasih sayang) dan keadilan, serta sesuai dengan QS. Al-Baqarah: 280:

"Dan jika (orang yang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tangguh sampai dia memperoleh kelapangan." (QS Al-Baqarah: 280)


Dalam perspektif hukum Islam, jika penerima Qardh (utang) meninggal dunia, maka:

  • Utangnya menjadi tanggungan harta warisan (tirkah) almarhum.

  • Sebelum harta warisan dibagi kepada ahli waris, utang wajib dibayar terlebih dahulu.

  • Jadi, bukan ahli waris secara pribadi yang wajib membayar, melainkan dari harta peninggalan si mayit.

๐Ÿ”น Jika harta warisan mencukupi → utang dilunasi dari tirkah.
๐Ÿ”น Jika tidak mencukupi → ahli waris boleh melunasi, tapi tidak wajib, kecuali jika mereka sukarela menanggungnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pembentukan Kalimat Dari Bilangan

  Berikut penjelasan Pembentukan Kalimat dari Bilangan (‘Adad & Ma‘dลซd) dalam bahasa Arab, disusun praktis langkah-demi-langkah supaya...